Skandal Damai di Meja Makan, PWI dan Hotman Paris Rendahkan Martabat Jurnalis

by

JAKARTA, KONSEPNEWS – Rekonsiliasi kilat antara Ketua PWI Pusat, Akhmad Munir dan Hotman Paris di atas meja makan sukses merendahkan martabat wartawan jilid dua. 

Ketua Paguyuban Jurnalis Mitra Polri (JMP), Ikhwan Andi Azis menilai Luka yang ditimbulkann kompromi instan ini jauh lebih perih ketimbang makian awal “Lu Punya Otak Enggak Sih”.

Ikhwan Aziz, mengatakan, para bos yang berdamai itu tertawa renyah di depan hidangan, sementara ribuan jurnalis di lapangan menanggung malu.

“Wartawan berdarah-darah menjaga marwah, elite murah banget berkompromi pakai dalih ‘Demi Persatuan Indonesia’. Apa hubungannya penghinaan ini dengan persatuan bangsa?” sindir Ikhwan, Kamis (30/7/26). 

Secara hukum, JMP mencium bau amis. Kasus baru berjalan seminggu dan saksi baru diperiksa, namun laporan langsung dicabut. 

“Ini jadi preseden buruk: besok-besok, silakan lecehkan wartawan, asal ujungnya selesai lewat diplomasi piring makan,” tandas Ikhwan.

Sesepuh Wartawan

Skandal “damai di meja makan” ini bikin sesepuh pers gerah dan turun gunung. Wartawan senior Dimas Supryanto langsung menelanjangi narasi “Persatuan Nasional” yang dipakai elite untuk cuci tangan.

“Demi persatuan nasional? Puihh! Memangnya memproses hukum Hotman Paris bisa bikin negara kudeta? Mantan Jampidsus yang simpan 72 kg emas saja bisa ditahan, kok pengacara ini sakti betul?” cecar Dimas lewat Facebook.

Mewakili amarah akar rumput, mantan wartawan Pos Kota ini melempar pertanyaan pamungkas: 

“Berapa kilo emas yang didapat PWI dari perdamaian secepat kilat ini? Berapa USD, SGD, atau jaminan ‘UGD’” tambahannya?” katanya.

Dikatakan Dimas, kini publik tahu, solidaritas profesi yang kemarin membara ternyata bisa langsung padam hanya dengan sekali traktir makan siang. Pilar keempat demokrasi ini resmi sekarat, digadaikan di atas meja makan tanpa kejelasan substantif.

Sementara itu, Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir berdalih pencabutan murni karena Hotman sudah minta maaf. Sebuah keputusan yang diklaim demi “persaudaraan dan persatuan bangsa” ,narasi klasik saat harga diri profesi telanjur dijual murah. Zan

No More Posts Available.

No more pages to load.