KONSEPNEWS – Dalam ajaran Islam, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua amal perbuatannya di dunia. Hari di mana segala kebaikan dan keburukan ditimbang ini disebut Yaumul Hisab, hari perhitungan. Allah SWT telah menegaskan dalam Alquran:
“Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al-Mu’minun: 102 – 103)
Salah satu penentu utama dalam berat atau ringannya timbangan amal seseorang adalah salat. Salat bukan hanya sekadar kewajiban, tapi juga pilar utama agama. Rasulullah SAW bersabda:
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang munafik/kafir) adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, Hasan Sahih)
Meninggalkan salat dengan sengaja tanpa uzur syar’i termasuk dosa besar yang sangat dimurkai Allah, bahkan dalam beberapa pendapat ulama dianggap lebih berat dosanya dibanding dosa-dosa besar lainnya, kecuali syirik. Allah SWT berfirman:
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)
Sebaliknya, salat lima waktu merupakan amalan yang paling agung pahalanya. Rasulullah SAW bersabda:
“Salat lima waktu, Allah menjadikannya sebagai kewajiban atas hamba-hamba-Nya. Barang siapa menjaganya, maka ia akan mendapatkan cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barang siapa tidak menjaganya, maka ia tidak akan mendapatkan cahaya, bukti, dan keselamatan, dan ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad dan Thabrani)
Maka dari itu, seorang muslim harus senantiasa menjaga salatnya setiap hari. Karena ketika tiba waktu penimbangan amal, tidak ada dosa yang dapat mengalahkan pahala salat lima waktu kecuali dosa syirik. Salat yang dikerjakan dengan ikhlas dan khusyuk akan menjadi penolong utama di hari akhir. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Jika baik salatnya, maka baik pula seluruh amalnya. Jika rusak salatnya, maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, hasan gharib)
Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk menghitung dan mengevaluasi amalnya setiap hari. Jangan biarkan satu haripun berlalu tanpa memastikan bahwa kebaikanmu lebih banyak daripada keburukanmu. Lakukan muhasabah setiap hari. Hisab diri kita sebelum kelak dihisab oleh Allah SWT. Sebagaimana pesan dari Umar bin Khattab RA:
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab. Timbanglah amalmu sebelum ditimbang. Dan bersiaplah untuk menghadapi hari besar (kiamat), ketika semua akan diperlihatkan tanpa ada yang tersembunyi.”
Dengan menjaga salat lima waktu dan terus melakukan muhasabah harian, seorang hamba akan lebih siap menghadapi hari perhitungan kelak. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang berat timbangan kebaikannya dan selamat di akhirat. Aamiin. yz






